.

Wednesday, September 4, 2013

Euforia Persatuan Masa Depan ASEAN 2015

Pelaksanaan persatuan di Negara-negara ASEAN ini masih terbilang ‘rumit’. Pasalnya dalam kenyataannya masih tersandung sejumlah persoalan, terutama masalah keamanan, ekonomi dan sosial budaya yang makin ‘semrawut’. Persengketaan wilayah yang terjadi di antara sejumlah negara ASEAN digadang-gadang memperumit terciptanya persatuan ASEAN. Sebut saja konflik internal yang ada di Negara anggota ASEAN yang terlibat di dalamnya. Antara lain Malaysia, Brunei, Filipina, dan Vietnam yang terlibat persengketaan dengan China, Taiwan di Laut China Selatan. Tak kalah serunya pada kasus Filipina yang belum terselesaikan adanya "Deklarasi Perilaku Laut Tiongkok Selatan”, serta eskalasi kekerasan di Myanmar pada konflik etnis di Rohingya maupun di Meiktila.

“Bagaimana bisa menciptakan persatuan pembangunan ASEAN kalau di dalam Negara-negara ASEAN masih banyak konflik? “ Dalam hal ini paradigma pendukung komunitas ASEAN berusaha keras untuk menyatukan rakyat dan menciptakan masa depan ASEAN dengan berdasarkan tiga pilar yaitu masyarakat Keamanan ASEAN (ASC), Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC) dan Masyarakat Soaial-Budaya ASEAN (ASSC).
pic: therealsingapore.com


Komunitas Keamanan ASEAN berlandaskan sebuah pilar yang fundamental dari komitmen ASEAN dalam mewujudkan Komunitas ASEAN. Pembentukan Komunitas Keamanan ASEAN akan memperkuat ketahanan kawasan yang mendukung penyelesaian konflik secara damai. Terciptanya perdamaian dan stabilitas inilah menjadi modal bagi proses pembangunan ekonomi dan sosial budaya masyarakat ASEAN.

Dalam penyelenggaraan KTT ASEAN ke-22 di Bandar Seri Begawan, ibukota Brunei Darusalam ini telah menfokuskan "Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan" pada pembangunan persatuan ASEAN dalam cita-cita bersama membentuk Komunitas ASEAN 2015 dan peran sentral ASEAN dalam arsitektur kawasan yang nantinya akan dikelola sebelum 31 Desember 2015. Pertanyaannya, bisa tidak terealisasi sebelum tanggal tersebut? 

Delegasi konferensi para pemimpin-pemimpin ASEAN ini diperlukan untuk bertukar pendapat mengenai masalah internasional dan keamanan regional dalam kerangka memperkuat interaksi, kelanjutan proses negosiasi inisiatif kerjasama Ekonomi Komprehensif Kawasan (RCEP) antara bangsa-bangsa ASEAN dan mitra ASEAN.

Deklarasi Brunei dirancang untuk mendorong kerjasama di antara lembaga-lembaga militer ASEAN dan organisasi-organisasi mitra lainnya, agar tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan di laut. Filipina pun turut serta akan melakukan hal yang sama dalam mengajukan kerjasama di bidang keamanan laut demi terlaksananya Pembangunan Badan Persatuan ASEAN.

Peningkatan persatuan ASEAN menjadi tonggak hindari timbulnya perselisihan. Berharap ASEAN tidak berpecah-belah dikarenakan masalah Laut Tiongkok Selatan dapat memperlambat proses integrasi ASEAN. Harus ada pendorong penyelarasan antar anggota ASEAN. Sementara itu, Brunei Darusalam sebagai Ketua ASEAN harus segera mengupayakan pencapaian tujuan tersebut. Pembentukan pasukan perdamaian regional ASEAN memiliki kemampuan untuk memainkan peran aktif dalam pemeliharaan perdamaian dan membangun perdamaian pasca konflik.

Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community-ASC) mengandalkan proses damai dalam menyelesaikan perselisihan yang mungkin terjadi di antara sesama anggota, berpegang pada prinsip-prinsip non-interfensi, pengambilan keputusan berdasarkan mufakat, ketahanan nasional dan regional, saling menghormati kedaulatan nasional, menghindari penggunaan ancaman, kekuatan dalam meyelesaikan perbedaan maupun perselisihan secara damai. Sasaran kerjasama keamanan ini diarahkan pada upaya-upaya menangkal persengketaan diantara sesama Negara ASEAN maupun antara Negara-negara non-ASEAN dalam mencegah ekskalasi persengketaan.

Selain keamanan, pembentukan kerjasama ASEAN dirasa masih belum mencapai titik maksimal pada persepsi ancaman politik sosial juga ketimpangan ekonomi sering menjadikan perbedaan dan penerapan prinsip-prinsip ‘non- interference serta sovereign equality’ oleh negara- negara anggota ASEAN. Ini menimbulkan banyak kesulitan dan tantangan dalam rencana pembangunan persatuan.

Resolusi pembentukan komunitas ASEAN diharapkan dapat meningkatkan dan menyelaraskan integrasi ASEAN melalui terciptanya “a caring and sharing community”, yaitu sebuah masyarakat ASEAN yang saling peduli dan berbagi. Perlunya kerjasama sosial-budaya dalam mencakup bidang pasar berbasis produksi unilateral, bebas pajak, bebas visa secara permanen dan aliran dana yang lebih bebas serta penyeimbang secara menyeluruh ke dalam sistem ekonomi global. Bilamana perlu, lebih meluas lagi pada pendidikan(pertukaran pelajar dan para ahli profesional), teknologi(bersama-sama menciptakan inovasi baru), lingkungan hidup(perkembangbiakan SATWA langka), penanggulangan bencana alam, pembangunan sosial, pengentasan kemiskinan, dan ketenagakerjaan(pelatihan/kerja magang, keterbukaan dalam penerimaan jasa pekerjaan, membuka jalan bagi UKM ke luar negeri), kesehatan(pertukaran jasa dokter dan peralatan medis). Kenapa Indonesia kalau berobat selalu ke Singapura?karena peralatan medisnya sangat lengkap dan para ahlinya dokternya mendatangkan gabungan dari negara lain.

Dengan demikian pencapaian pelaksanaan Pembangunan Badan Persatuan ASEAN dapat terlaksana sebelum tanggal 31 Desember 2015. Optimisme negara-negara ASEAN dalam menyatukan rakyat hingga terciptanya ‘Masa Depan’ akan berbuah manis asalkan pelaksanaan ketiga pilar (persatuan keamanan, persatuan ekonomi dan persatuan sosial kebudayaan) terus bersinergi dalam satu visi, misi dan tujuan menuju ASEAN 2015.

*****


Tulisan ini diposting dalam rangka menikuti lomba #10daysforASEAN yang diselenggarakan oleh ASEAN Blogger.

No comments: