.

Saturday, August 17, 2013

Tradisi Kupatan di Suku Tengger - Bromo

Sepekan sudah lebaran telah usai. Kini, pada umumnya umat muslim biasanya mengadakan acara kupatan sebagai tanda kemenangan di hari lebaran. Bagaimana dengan suku Tengger, masih adakah adat kupatan disana?

Foto: koleksi pribadi. Sayur Ketupat.

Desa Ngadas merupakan satu-satunya desa suku Tengger yang berada di wilayah pinggiran Kabupaten Malang. Kurang lebih ada 37 desa terdapat di suku Tengger yang tersebar di wilayah pinggiran Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruhan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Kebanyakan dari penduduknya memeluk agama Hindu Mahayana. Khusus di desa Ngadas, mayoritas penduduknya memeluk agama Budha Jawa Sanyata yang mengacu pada ajaran Ki Semar (bukan pada Sidharta Gautama). Agama tersebut dianut oleh nenek moyang terdahulu, yang sejarahnya sejak jaman dahulu kala selalu di yakini para abdi dan prajurit kerajaan Majapahit yang bermigrasi ke daerah pegunungan ketika kerajaan Majapahit terdesak oleh serangan dari kesultanan Demak.

Islam sendiri masuk sekitar tahun 1990-an dengan berdirinya Masjid Al Ashfiyah yang berdiri kokoh dengan dua lantai, letaknya di tepi lereng punggungan gunung Bromo, sedangkan dibelakang masjid itu terlihat tanah perkebunan yang sangat curam hingga ketika alunan adzan yang dilantunkan jamaah masjid berkumandang suaranya membahana sampai menembus lereng-lereng pegunungan. Masjid tersebut diresmikan pada tahun 2001 di Desa Ngadas, maka tak heran jikalau saat ini minoritas penduduk desa yang berjumlah 318 jiwa itu memeluk agama Islam (dari 1800 jiwa penduduk Desa Ngadas).

Saat saya bersilaturahmi ke rumah saudara, tepatnya di Desa Ngadas, Poncokusumo terlihat masyarakat sana tampak guyup rukun walaupun banyak terdapat perbedaan beragama tetapi konflik agama tidak pernah terjadi.  Masyarakat Ngadas tetap dipersatukan oleh adat-istiadat yang mereka pegang teguh dengan niatan menjaga budaya dan menghormati warisan leluhur nenek moyang mereka.

Bagi mereka agama boleh berbeda, namun semua tak pernah dijadikan sebuah kendala. Tradisi suku Tengger di Desa Ngadas tetap rutin mengadakan upacara adat, yang selalu diikuti dari berbagai agama untuk menjaga keutuhan budaya, bahkan sudah sangat lumrah sekali aktivitas merayakan hari besar suatu agama, sifat toleransi mereka selalu terjaga persatuan dan persaudaraan dari berbagai macam pemeluk agama Islam, Budha Jawa dan Hindu Mahayana. Tidak terkecuali acara adat kupatan disana juga masih menjadi tradisi ateran berbagi menu ketupat di setiap rumah, non muslim pun juga ikut menikmatinya. Mereka tak sungkan-sungkan menyantap makanan ketupat yang dibagikan oleh masyarakat muslim.

Perjalanan jarak tempuh menuju ke Bromo dari Desa Ngadas, Poncokusumo tidak terlalu jauh, kurang lebih hanya 500 meter melewati luasnya perkebunan kentang dan padang pasir. Maka, terasa kurang lega kalau tidak mempir ke Bromo sekalian berwisata menghabiskan sisa liburan lebaran yang kurang beberapa hari lagi akan berakhir.

Lereng-lereng pegunungan, jalan menuju ke Bromo.

Gunung Bromo merupakan tempat wisata yang terkenal di Jawa Timur. Pemandangannya sungguh memukau, suhu udara disana sangat dingin, di bawah 10 derajat celcius dan airnya sedingin air kulkas, mengharuskan pengunjung memakai sarung tangan, jaket sweater dan penutup kepala serta balutan syal yang melingkar di leher untuk mengusir hawa dingin yang menusuk hingga tulang rusuk. Memang sepekan ini hampir seluruh wilayah Jawa Timur suhu-nya turun. Berangkat dari Desa Ngadas pukul 02:00 WIB, naik motor sempat terjebak hampir dua jam di padang pasir hingga jam empat pagi, beruntung bertemu dengan rombongan wisatawan yang mengendarai mobil Terios dan akhirnya kita diajak bergabung bersama menuju ke Bromo. Namun sesampainya di puncak Bromo, saya gagal melihat sunrise karena tertutup awan kabut.

Gunung Bromo, masih sedikit tertutup oleh kabut.

Menyempatkan memoto Pura, tempat ibadah umat Hindu.

Berkunjung ke suku Tengger, Desa Ngadas Poncokusumo ini benar-benar sangat berkesan. Solidaritas masyarakatnya yang ramah lingkungan patut dijadikan contoh, membuat saya betah untuk berlama-lama tinggal disana. Keindahan gunung Bromo pun merupakan salah satu keajaiban alam yang sangat mempesona. Tak salah jika Desa Ngadas dicanangkan sebagai desa wisata.

Referensi :
Observasi Lokasi dan Data, wawancara (2013)
Buku Sejarah Majapahit

No comments: