Tuesday, August 27, 2013

Borobudur Vs Angkor Wat

Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Bentuk Candi berupa stupa yang didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra.

Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang didalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma). Borobudur, pada tahun 2010 telah masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO

Bagaimanakah sejarah Candi Angkor Wat? Menurut berita di situs resmi wikipedia Candi Angkor Wat merupakan sebuah kuil atau candi yang terletak di kota Angkor, Kamboja yang dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan kuil Angkor Wat memakan waktu selama 30 tahun. Angkor Wat terletak di dataran Angkor yang juga dipenuhi bangunan kuil.

Raja Suryavarman II memerintahkan pembangunan Angkor Wat menurut kepercayaan Hindu yang meletakkan gunung Meru sebagai pusat dunia dan merupakan tempat tinggal dewa-dewi Hindu, dengan itu menara tengah Angkor Wat adalah menara tertinggi dan merupakan menara utama dalam kompleks bangunan Angkor Wat, kemudian abad ke-13 dialihfungsikan menjadi kuil Buddha. Pada tahun 1992 Angkor Wat juga masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.


Dalam sejarahnya Candi Borobudur merupakan salah satu keajaiban dunia. Dunia pun sudah mengakuinya. Bahkan Kerajaan di Indonesia pernah menguasi ASEAN. Candi Borobudur merupakan asset Negara Indonesia. Begitu juga dengan Candi Angkor Wat telah dianggap sebagai salah satu dari keajaiban dunia di ASEAN.

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, pada abad ke - 9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi hampir seluruh kerajaan - kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Filipina. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal. Semuanya berawal dari kerajaan Sriwijaya atau juga disebut Srivijaya merupakan salah satu kemaharajaan maritim yang kuat di pulau Sumatera dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, dan pesisir Kalimantan. 



Kebudayaan Indonesia yang terangkum dari beberapa peninggalan sejarah seperti candi, prasasti, makanan kuliner tradisional daerah dan juga keberadaan bahasa daerah. Kebudaaan ASEAN merupakan serumpun sehingga memiliki kemiripan satu sama lain. Kita harus bisa menyikapinya dengan bijak untuk saling menghormati dan menghargai, seperti halnya dengan Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat. Walaupun ada kesamaan relief namun masih ada perbedaan kepemilikan regional wilayah yang tercatat dalam sejarahnya candi Borobudur tetaplah milik Indonesia dan Candi Angkor Wat ada di Kamboja. Kalau pun Candi Angkor Wat ada kemiripan dengan Candi Borobudur sudah ‘lumrah’ karena kedua candi tersebut dipersatukan oleh agama Buddha Theravada. Jadi antara Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat terdapat jalinan benang merah diantara keduanya. Bahkan Candi Angkor Wat Kamboja disinyalir merupakan replikanya dari candi Borobudur. Pasalnya, selama masa pembentukannya, Kerajaan Khmer memiliki hubungan kebudayaan, politik dan perdagangan yang intensif dengan Jawa, dan kemudian berlanjut dengan Kerajaan Sriwijaya yang terdapat di sebelah selatan batas wilayah Khmer.  


Komunitas ASEAN Blogger memberikan kontribusi cukup signifikan dalam hal diseminasi informasi sosial budaya dan tempat pariwisata. Melalui pelbagai media sosial berbasis internet, diharapkan dengan mudah menyebarluaskan kebudayaan yang ada dapat ter-update dalam 'seminar online' pada masing-masing culture ASEAN untuk di diskusikan dalam penyusunan rekomendasi atau deklarasi bersama, sehingga tidak ada lagi isu-isu penyimpangan kepemilikan dari kebudayaan negara yang sebenarnya.

Peranan ASEAN dalam hal budaya dapat memperkaya dan melestarikan serta terjalinnya kerja sama diantara kebudaaan di negara-negara ASEAN. Warisan budaya tersebut menjadikan keuntungan keterbukaan ladang kita (Indonesia) agar mengoptimalkan warisan budaya untuk meningkatkan kepariwisataan, pendapatan ekonomi negara dan mendelegasi juga mengetengahkan budaya Indonesia yang hampir punah.

Harapan kedepannya, dalam rangka menyambut ASEAN 2015 hendaknya dapat lebih mempererat dalam deklarasi pertukaran budaya untuk di nikmati bersama, menggagas sebuah tempat wisata yang dapat dihimpun dari berbagai kawasan misalnya lebih mengeksplorasi budaya melayu dapat terus terjalin hubungan antara negara Indonesia, Malaysia dan Brunai Darusalam dalam satu budaya serumpun pada 10 negara yang tergabung dalam ASEAN antara lain meliputi Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, Philipina, Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar, Brunai Darusalam. 

Kesimpulan dari semua itu bahwa sejatinya kebudayaan tidak bisa dikekang dan secara khusus telah mempunyai tradisi warisan budaya yang tidak akan pernah hilang atau pun bergeser sejarahnya. Tidak ada lagi perebutan kebudayaan, selalu damai, membuka batasan-batasan yang ada dalam kebudayaan yang sebenarnya. Seperti halnya dengan Candi Borobudur dan Candi Angkor Wat tetaplah pada porsi sejarahnya masing-masing. Semuanya mempunyai indikasi dalam kemiripan kebudayaan dari masing-masing negara anggota ASEAN.
gambar disini

Tulisan ini diikutsertakan Lomba Blog #10daysforASEAN yang diselenggarakan oleh ASEAN Blogger

Sumber:

Post a Comment