Saturday, March 31, 2012

Ketika Anak Mengalami Depresi

Suatu hari, saya sekeluarga diharuskan untuk pindah ke luar kota. Karena pindahnya mendadak dan belum mendapatkan rumah, saya pun meninap di rumah teman (selama 2 hari) sebut saja Nia (bukan nama sebenarnya). Nah, dengan berjalannya waktu tentunya saya jadi tau keseharian Nia dalam mendidik anaknya. Jujur saya tak tega melihatnya. Nia begitu keras dan kasar terhadap anak-anaknya. Jika anaknya tidak menurut, tak sungkan-sungkan Nia langsung menghajarnya. Di gebukin pantatnya, di jewer telinganya sampai menangis meraung-raung minta ampun. Hadduuuhhh, bener-benar tak tega melihatnya. Saya pun menasehati Nia agar tidak memukul walaupun anaknya lelaki, apalagi umurnya masih sekitar umur 5 tahun. Cukup di beri tahu saja alasan kenapa dilarang, pasti anak mengerti. Sebetulnya semakin sering dipukul, justru anak-anak makin bandel dan brutal.

Sejak peristiwa itu, tak menduga berdampak buruk bagi anak saya. Vica yang biasanya ceria, seketika menjadi murung, mogok ngomong. Itu berlangsung cukup lama! Kalau di tanya cuman geleng kepala dan sesekali mengangguk tanda setuju. Menangis pun enggan! Pokoknya hampir tak pernah mengeluarkan suara deh… kok aneh ya…??? Begitu mengeluarkan suara, tiba-tiba saja ngomongnya berubah menjadi gagap sampai nada suaranya terbatah-batah, seperti sedang ketakutan. “hikz” Parahnya lagi, tiba-tiba saja Vica menjadi penakut. Ya, takut sama semua orang! Sikapnya mendadak suka ngumpet di belakang bunda jika ada seseorang yang menghampirinya. “Wah, ada apa dengan Vica???” Sedih banget rasanya.

 Tak ada bunda, 'Tiang' -pun jadi sandaran buat ngumpet!

Emmm, dari gejala yang saya tangkap, kemungkinan Vica mengalami syock deh. Depresi! Betul, trauma melihat teman sebaya-nya diperlakukan dengan tidak baik. Karakter Vica memang melankolis. Sangat sensitive dan perasa! Jangankan marah, bunda teriak saja dia sudah nelongso (baca: sedih). Apalagi kalau melihat tindakan kekerasan seperti itu. Perubahan Vica yang begitu mendadak, membuat ayah bunda jadi bingung. “Gimana niiiih solusinya???????” 

Bunda pun cari akal! Lalu, setiap pagi dan sore bunda ajak Vica jalan-jalan ke taman. Rutin setiap hari. Di taman tampak terlihat banyak anak-anak lagi asyik berlari, ceria, bermain bola, tertawa riang……begitulah suasana di taman. Melihat tingkah polah mereka, Vica biasa saja. Sama sekali tidak ada respon. 

Kemudian kami pun memutuskan kembali ke rumah dan terpaksa menunda kepindahan keluar kota. Bagiku, kesembuhan anak lebih penting. Mumpung belum terlanjur parah. Dengan kembali ke suasana rumah, berharap kondisi Vica bisa lebih baik. Namun ternyata tidak semudah itu penyembuhannya. Ketika teman-temannya berkunjung ke rumah, Vica tidak beraksi sama sekali. Teman-temannya asyik bermain, tapi Vica tetap diam membisu tanpa ada expresi apa pun. Ya, kesembuhan itu butuh proses. Apalagi penyebabnya karena trauma. Harus sabar. 

Rencana bunda selanjutnya adalah melakukan sesuatu yang disukai Vica. Misalkan memasak menu kesukaan-nya, membacakan buku cerita yang lucu, membelikan mainan, dan upss….baru teringat nih kalau dia suka banget di foto. Langsung aja bunda mendadani Vica bak seperti putri. Cpret….cpret…cpret…(bunda terus saja asyik moto) sesekali memaksa supaya dia mau action. Tapiii…… lhah, kok malah nangis sih??! Eeeemmm, tak apalah. Justru Bunda makin lega deh akhirnya Vica bisa bersuara keras. Biarlah menangis.... Setidaknya dengan menangis bisa mengurangi beban mental yang selama ini bikin nyesek dalam hati-nya. (sambil memeluk) 

Nangis karena di paksa action.

Waktu pun berlalu, syukurlah Vica mulai ceria kembali. Mulai bisa ketawa-ketiwi, walaupun masih sedikit takut jika berjumpa dengan orang dewasa. Bunda kasih pengertian, bahwa tidak semua orang itu sama. Semuanya mempunyai sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ada yang lembut, keras, galak dan baik hati. Kemudian bunda daftarkan Vica ke sekolah Play Group supaya bisa lebih bersosialisasi. Mengenal banyak teman baru, orang-orang baru, suasana baru dan lambat laun akhirnya Vica bisa kembali normal seperti sebelumnya. Gagap-nya juga berkurang dan terus berkurang, hingga hilang tanpa membekas.......

Begitulah pengalaman cerita saya (1 tahun yang lalu) ketika Vica masih berumur 3 tahun lebih 5 bulan. mengalami depresi. Semuanya menjadikan pembelajaran buat saya. Ini semua tak terlepas dari bantuan teman-teman dan saudara dekat saya yang telah membantu untuk kesembuhan Vica. Terima Kasih ya semuanya………

Ini foto terbaru Vica(umur 4th lebih 7bulan)

***
Tulisan ini masuk sepuluh besar Pengumumannya ada disini

"GA GOLDEN MOMENT WITH TOUR CHILD" yang diadakan oleh penerbit byPASS www.penerbitbypass.com

Post a Comment